Januari 25, 2013

The main reason

Yes you are.
The main reason why i'm sad and happy.
The reason. Give me motivation to do my best.
The reason i believe in true love.

Januari 24, 2013

Melukis lalu terhempas

Sudah lama aku tak menulis.
Karena aku terlalu terbuai untuk melukis.
Lukisan yang aku gores perlahan-lahan dengan tinta warna dan kelabu.
Melukis pagi dengan senyum merekah.
Melukis siang dengan khawatir yang mereda kala dia ada.
Melukis malam dengan kebahagiaan akan hari.

Dan hari itu.
Tiba-tiba saja ego memuncak.
Mengambil alih lukisan yang digoreskan oleh hati.
Ia murka, ia marah.
Menghempaskan lukisan yang masih abstrak.
Hingga lukisan itu kini hancur.

Satu tetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Beberapa tetes.
Hujan.
Lalu banjir.

A sad memory

"Semangat." Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin.
Mata sembab dan senyum yang melukis luka.
Suara jangkrik berkumandang.
Mencoba menghibur namun tangisan itu semakin berderai.
Segala pikiran berkecamuk.
Logika memegang angkuh kendali hidupnya menggoreskan penyesalan. Ternyata hati lebih benar.
Logika amarah sesaatnya menyisakan sesal.
Luka kini tergores.
Semakin dalam.
Kebahagiaan itu tak lagi sempurna.
Satu tetes, dua tetes, tiga tetes, beberapa tetes, hujan lalu banjir.
"Kamu terlalu bodoh." Hatinya berkata pilu.

November 12, 2012

Dia. Gadis itu.

Dia.
Gadis itu.
Menggemakan tawa.
Namun yang ku lihat perih bukan bahagia.

Dia.
Gadis itu.
Menari di bawah hujan.
Tapi yang ku lihat luka bukan keceriaan.

Dia.
Gadis itu.
Tersenyum.
Tapi sorot matanya hampa.

Dia.
Gadis itu.
Bersikap tegas dan tegar.
Namun dia tetap gadis rapuh yang ingin ku jaga.

Dia.
Gadis itu.
Menyimpan banyak angan.
Menyimpan banyak asa.
Yang dia kubur dalam-dalam.

Dia.
Gadis itu.
Sosok ceria.
Menyimpan banyak luka.

Dia.
Gadis itu.
Sosok yang selalu ingin aku peluk.
Sosok yang lewat hampanya membuatku terkesima.

November 07, 2012

Hening

Aku suka malam
Dengan heningnya
Dengan sepinya
Dengan tenangnya

Kala aku sejenak saja bisa merasa jauh dari kebisingan
Kala aku bisa memandang langit kelam nan tenang dengan taburan bintng
Kala aku bisa menangis seorang diri tanpa ada lalu lalang nafas yang lain
Kala aku bisa menghirup udara malam yang menenangkan
Kala aku bisa menenangkan pikiranku

Aku suka sepi
Aku suka hening
Aku suka sunyi
Aku suka tenang

November 02, 2012

Setiap Senja Menyapa

Setiap senja menyapa.
Acap kali aku melihatnya berjalan.
(selalu) tergesa dengan tatapan nanar penuh kehampaan.

Setiap senja menyapa.
Di tempat yang sama, aku sudah berdiri.
Menunggu dia datang dengan penuh keacuhan.
Memandanginya. Menahan asa untuk menyapa.

Setiap senja menyapa.
Aku selalu kembali jatuh cinta.
Pada tatap mata sayupnya pada hampanya.

Setiap senja menyapa.
Aku menyelipkan asa.
Bisa masuk dalam dunianya, ikut tenggelam dalam dunianya.

Setiap senja menyapa.
Aku berangan.
Sebuah senyum manis menghias wajahnya.

Agustus 22, 2012

Hmmm


Rintik hujan kembali bergelayut manja dalam rona senja.
Aku menghitung butiran hujan yang manis membasahi telapak tanganku.
Ya, aku tidak sedang hujan-hujanan.
Hujan dan hujan-hujanan selalu mengingatkan aku padamu. Tentu saja lebih mengingatkanku padamu, karena tanpa hujan pun detik berlalu manis dengan kenangan ‘kita’ yang terus menyesap waktu.
Ah sedang apa kamu disana, sayang?
Bolehkah aku memanggilmu ‘sayang’? Tentu, bukan hanya sekedar panggilan. Aku memang menyayangimu. Sampai detik ini. Walaupun kau tidak.
Manis bukan, aku tetap menunggumu? Walaupun hanya  dalam sunyi.
Aku harus menelan dalam-dalam asa yang pernah ku tanam untuk menghabiskan waktu bersamamu. Aku harus melempar jauh-jauh tentang janji yang kau torehkan di hati.
Karena ternyata kesetiaan itu tak ada dalam dirimu. Karena nyatanya aku pun hanya pelampiasan sejenak kejenuhanmu, bukan sayang yang kau lontarkan. Benarkan?
Ah naïf memang kala aku berkata aku baik-baik saja, nyatanya perih perlahan membuat jiwaku mati, hatiku beku.
Rona nyatanya waktu menumpuk rindu, sayang.
Jarak pun memegang kendalinya akan rasa sayang dan keinginan bertemu yang semakin membuncah di dada.
Kadang kala gelap kembali bercerita, tangisku berderai. Berharap kau datang dan memelukku. Mengatakan kau akan selalu ada dan aku tak perlu berlari jauh dari perasaanku lagi.
Nyatanya walau tangis membuatku terlelap dan terbangun dengan mata sendu, tetap saja kau tak ada untukku. Kau miliknya.
Ah sudahlah, sebanyak apapun kata yang terlukis untukmu, kau tak akan peduli.
Semoga kau selalu berada dalam naungan Tuhan J
You gotta be happy.

July 12, 2012
Bandung kala  hujan menyapa.
Sincerely, your C#-1