Februari 10, 2013

Bolehkah aku menemanimu bersedih, mega?

Langit kembali kelabu.
Menghadirkan semerbak bau tanah dan kenangan…..
Rintik tetesan air mata sang mega kembali membasahi raga, dinginnya menusuk kulit.
Namun, aliran darah di sekujur tubuhku kian memanas, terbakar luapan emosi sang hati.
Bodoh, makinya.
Dan….
Rona mata pun kian meredup. Menerawang bebas ke tempat dimana seharusnya aku tak berada.
Ke tempat dimana seharusnya luka tak kembali tergores.
Ke tempat dimana berulang kalipun ku ketuk, pintunya tak pernah terbuka.
Sedikit pun.
Haruskah aku melangkah atau bertahan?
Pergi atau tinggal untuk terus mengetuk?
Tuhan, peluk.
Anak gadis-Mu terlalu lemah untuk melangkah saat ini....

Februari 09, 2013

Labirin memori

Tik tok tik tok.
Waktu terus saja melangkah maju.
Tapi. Aku melangkahkan kakiku berlawanan arah dengannya.
Hey, bisakah kau menuntunku bersama waktu.
Aku tersesat dalam labirin memori, sayang.

Januari 25, 2013

The main reason

Yes you are.
The main reason why i'm sad and happy.
The reason. Give me motivation to do my best.
The reason i believe in true love.

Januari 24, 2013

Melukis lalu terhempas

Sudah lama aku tak menulis.
Karena aku terlalu terbuai untuk melukis.
Lukisan yang aku gores perlahan-lahan dengan tinta warna dan kelabu.
Melukis pagi dengan senyum merekah.
Melukis siang dengan khawatir yang mereda kala dia ada.
Melukis malam dengan kebahagiaan akan hari.

Dan hari itu.
Tiba-tiba saja ego memuncak.
Mengambil alih lukisan yang digoreskan oleh hati.
Ia murka, ia marah.
Menghempaskan lukisan yang masih abstrak.
Hingga lukisan itu kini hancur.

Satu tetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Beberapa tetes.
Hujan.
Lalu banjir.

A sad memory

"Semangat." Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin.
Mata sembab dan senyum yang melukis luka.
Suara jangkrik berkumandang.
Mencoba menghibur namun tangisan itu semakin berderai.
Segala pikiran berkecamuk.
Logika memegang angkuh kendali hidupnya menggoreskan penyesalan. Ternyata hati lebih benar.
Logika amarah sesaatnya menyisakan sesal.
Luka kini tergores.
Semakin dalam.
Kebahagiaan itu tak lagi sempurna.
Satu tetes, dua tetes, tiga tetes, beberapa tetes, hujan lalu banjir.
"Kamu terlalu bodoh." Hatinya berkata pilu.

November 12, 2012

Dia. Gadis itu.

Dia.
Gadis itu.
Menggemakan tawa.
Namun yang ku lihat perih bukan bahagia.

Dia.
Gadis itu.
Menari di bawah hujan.
Tapi yang ku lihat luka bukan keceriaan.

Dia.
Gadis itu.
Tersenyum.
Tapi sorot matanya hampa.

Dia.
Gadis itu.
Bersikap tegas dan tegar.
Namun dia tetap gadis rapuh yang ingin ku jaga.

Dia.
Gadis itu.
Menyimpan banyak angan.
Menyimpan banyak asa.
Yang dia kubur dalam-dalam.

Dia.
Gadis itu.
Sosok ceria.
Menyimpan banyak luka.

Dia.
Gadis itu.
Sosok yang selalu ingin aku peluk.
Sosok yang lewat hampanya membuatku terkesima.

November 07, 2012

Hening

Aku suka malam
Dengan heningnya
Dengan sepinya
Dengan tenangnya

Kala aku sejenak saja bisa merasa jauh dari kebisingan
Kala aku bisa memandang langit kelam nan tenang dengan taburan bintng
Kala aku bisa menangis seorang diri tanpa ada lalu lalang nafas yang lain
Kala aku bisa menghirup udara malam yang menenangkan
Kala aku bisa menenangkan pikiranku

Aku suka sepi
Aku suka hening
Aku suka sunyi
Aku suka tenang