Bolehkah aku tetap menyayangimu?
Aku berjanji tidak akan mengganggumu dengan perasaanku.
Bolehkah aku merangkai mimpi tentangmu?
Aku berjanji mimpi itu akan ku simpan erat-erat dalam hatiku.
Bolehkah aku tetap menatap wajahmu dalam foto?
Aku berjanji tidak akan mencoba menampakkan wajahku di hadapanmu.
Are you live happily, my papaver somniferum?
I just love writing. I use my heart to write. :) And life gives me inspiration to write.
Maret 02, 2013
Goodbye Happiness
Katakan aku bodoh karena menangis selama membaca novel ini. Tapi aku tahu rasanya mencintai seseorang yang aku pun tak tahu apa dia benar-benar mencintaiku karena dia tidak menunjukannya sungguh-sungguh. Aku tidak ingin menjadi ‘Tink’ yang kehilangan ‘Skan’ tapi aku memang telah kehilangan ‘Skan’-ku.
Katakan aku bodoh karena aku menempatkan diriku menjadi ‘Tink’.
Aku membayangkan kelak aku akan kehilangannya, kelak dia akan meninggalkan dan melupakanku.
Dan tetesan itu semakin membasahi wajahku.
Aku ingin menghambur ke dalam pelukannya, menangis dalam pelukannya dan mengatakan aku sangat menyayanginya.
Tapi bukankah segala hal itu tak dapat aku lakukan?
Karena dia….
Tidak merasakan hal yang sama.
Februari 10, 2013
Bolehkah aku menemanimu bersedih, mega?
Langit kembali kelabu.
Menghadirkan semerbak bau tanah dan kenangan…..
Rintik tetesan air mata sang mega kembali membasahi raga, dinginnya menusuk kulit.
Namun, aliran darah di sekujur tubuhku kian memanas, terbakar luapan emosi sang hati.
Bodoh, makinya.
Dan….
Rona mata pun kian meredup. Menerawang bebas ke tempat dimana seharusnya aku tak berada.
Ke tempat dimana seharusnya luka tak kembali tergores.
Ke tempat dimana berulang kalipun ku ketuk, pintunya tak pernah terbuka.
Sedikit pun.
Haruskah aku melangkah atau bertahan?
Pergi atau tinggal untuk terus mengetuk?
Tuhan, peluk.
Anak gadis-Mu terlalu lemah untuk melangkah saat ini....
Menghadirkan semerbak bau tanah dan kenangan…..
Rintik tetesan air mata sang mega kembali membasahi raga, dinginnya menusuk kulit.
Namun, aliran darah di sekujur tubuhku kian memanas, terbakar luapan emosi sang hati.
Bodoh, makinya.
Dan….
Rona mata pun kian meredup. Menerawang bebas ke tempat dimana seharusnya aku tak berada.
Ke tempat dimana seharusnya luka tak kembali tergores.
Ke tempat dimana berulang kalipun ku ketuk, pintunya tak pernah terbuka.
Sedikit pun.
Haruskah aku melangkah atau bertahan?
Pergi atau tinggal untuk terus mengetuk?
Tuhan, peluk.
Anak gadis-Mu terlalu lemah untuk melangkah saat ini....
Februari 09, 2013
Labirin memori
Tik tok tik tok.
Waktu terus saja melangkah maju.
Tapi. Aku melangkahkan kakiku berlawanan arah dengannya.
Hey, bisakah kau menuntunku bersama waktu.
Aku tersesat dalam labirin memori, sayang.
Waktu terus saja melangkah maju.
Tapi. Aku melangkahkan kakiku berlawanan arah dengannya.
Hey, bisakah kau menuntunku bersama waktu.
Aku tersesat dalam labirin memori, sayang.
Januari 25, 2013
The main reason
Yes you are.
The main reason why i'm sad and happy.
The reason. Give me motivation to do my best.
The reason i believe in true love.
The main reason why i'm sad and happy.
The reason. Give me motivation to do my best.
The reason i believe in true love.
Januari 24, 2013
Melukis lalu terhempas
Sudah lama aku tak menulis.
Karena aku terlalu terbuai untuk melukis.
Lukisan yang aku gores perlahan-lahan dengan tinta warna dan kelabu.
Melukis pagi dengan senyum merekah.
Melukis siang dengan khawatir yang mereda kala dia ada.
Melukis malam dengan kebahagiaan akan hari.
Dan hari itu.
Tiba-tiba saja ego memuncak.
Mengambil alih lukisan yang digoreskan oleh hati.
Ia murka, ia marah.
Menghempaskan lukisan yang masih abstrak.
Hingga lukisan itu kini hancur.
Satu tetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Beberapa tetes.
Hujan.
Lalu banjir.
Karena aku terlalu terbuai untuk melukis.
Lukisan yang aku gores perlahan-lahan dengan tinta warna dan kelabu.
Melukis pagi dengan senyum merekah.
Melukis siang dengan khawatir yang mereda kala dia ada.
Melukis malam dengan kebahagiaan akan hari.
Dan hari itu.
Tiba-tiba saja ego memuncak.
Mengambil alih lukisan yang digoreskan oleh hati.
Ia murka, ia marah.
Menghempaskan lukisan yang masih abstrak.
Hingga lukisan itu kini hancur.
Satu tetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Beberapa tetes.
Hujan.
Lalu banjir.
A sad memory
"Semangat." Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin.
Mata sembab dan senyum yang melukis luka.
Suara jangkrik berkumandang.
Mencoba menghibur namun tangisan itu semakin berderai.
Segala pikiran berkecamuk.
Logika memegang angkuh kendali hidupnya menggoreskan penyesalan. Ternyata hati lebih benar.
Logika amarah sesaatnya menyisakan sesal.
Luka kini tergores.
Semakin dalam.
Kebahagiaan itu tak lagi sempurna.
Satu tetes, dua tetes, tiga tetes, beberapa tetes, hujan lalu banjir.
"Kamu terlalu bodoh." Hatinya berkata pilu.
Mata sembab dan senyum yang melukis luka.
Suara jangkrik berkumandang.
Mencoba menghibur namun tangisan itu semakin berderai.
Segala pikiran berkecamuk.
Logika memegang angkuh kendali hidupnya menggoreskan penyesalan. Ternyata hati lebih benar.
Logika amarah sesaatnya menyisakan sesal.
Luka kini tergores.
Semakin dalam.
Kebahagiaan itu tak lagi sempurna.
Satu tetes, dua tetes, tiga tetes, beberapa tetes, hujan lalu banjir.
"Kamu terlalu bodoh." Hatinya berkata pilu.
Langganan:
Postingan (Atom)





