April 21, 2013

Maaf...

Ketika kamu membaca ini, aku tahu kamu masih peduli.
Teruskan membaca, karena aku tak bisa berkata dengan lisan.
Karena lewat tulisan pun tangis sudah berderai.
Apalagi bila aku harus berkata lisan dan memandang kedua bola matamu.
Maafkan aku, maafkan keegoisanku...


Detik terus saja berjalan maju.
Namun aku tetap enggan melangkahkan kakiku.
Aku masih ingin tetap berada disini, dalam labirin memori.
Kotak kenangan berisi setiap inchi kisah kita..

Aku masih sangat menyayangimu.
Bertahun-tahun sama sekali tak pernah bisa membuatku jera untuk mencintaimu.
Untuk menemukan sosok pria lain.
Bagiku tetap satu, kamu, mas.

Baiklah, kini aku sudah tak ada di hatimu, di pikiranmu.
Sudah terlupakan.
Sudah tergantikan.
Sudah ada dia. :)
Benar?
Ya, seperti dugamu, aku cemburu.
Sangat cemburu.
Tapi tak ada kekuatan untuk mengatakannya padamu.
Hatiku terlalu rapuh dan takut akan segala penghinaan yang mungkin kau lontarkan.

Maafkan keegoisanku, selalu berpikir kau tidak mencintaiku.
Maafkan keegoisanku, ingin memilikimu seutuhnya selamanya.
Aku ingin kau menjadi milikku lagi, seutuhnya, selamanya.
Dan aku tidak akan lagi pernah melepasmu..

April 11, 2013

Dunia Tulis?

Aku masih lebih suka hidup dalam dunia tulis.
Dimana skenario utuh berjalan dalam genggamanku.

Dilupakan kenanganu

Aku berjalan terseok.
Membuka pintu masuk labirin memori.
Mengingat yang bahkan sudah melupakan.

Cih! Aku dilupakan kenangan.
Sedangkan aku masih menyimpannya rapi dalam memori.

Dilupakan?
Sakit.
Mengingat?
Jauh lebih sakit.

Maret 02, 2013

Bolehkah?

Bolehkah aku tetap menyayangimu?
Aku berjanji tidak akan mengganggumu dengan perasaanku.
Bolehkah aku merangkai mimpi tentangmu?
Aku berjanji mimpi itu akan ku simpan erat-erat dalam hatiku.
Bolehkah aku tetap menatap wajahmu dalam foto?
Aku berjanji tidak akan mencoba menampakkan wajahku di hadapanmu.
Are you live happily, my papaver somniferum?




Goodbye Happiness

Katakan aku bodoh karena menangis selama membaca novel ini. Tapi aku tahu rasanya mencintai seseorang yang aku pun tak tahu apa dia benar-benar mencintaiku karena dia tidak menunjukannya sungguh-sungguh. Aku tidak ingin menjadi ‘Tink’ yang kehilangan ‘Skan’ tapi aku memang telah kehilangan ‘Skan’-ku. 
Katakan aku bodoh karena aku menempatkan diriku menjadi ‘Tink’.
Aku membayangkan kelak aku akan kehilangannya, kelak dia akan meninggalkan dan melupakanku.
Dan tetesan itu semakin membasahi wajahku.
Aku ingin menghambur ke dalam pelukannya, menangis dalam pelukannya dan mengatakan aku sangat menyayanginya.
Tapi bukankah segala hal itu tak dapat aku lakukan?
Karena dia….
Tidak merasakan hal yang sama.


Februari 10, 2013

Bolehkah aku menemanimu bersedih, mega?

Langit kembali kelabu.
Menghadirkan semerbak bau tanah dan kenangan…..
Rintik tetesan air mata sang mega kembali membasahi raga, dinginnya menusuk kulit.
Namun, aliran darah di sekujur tubuhku kian memanas, terbakar luapan emosi sang hati.
Bodoh, makinya.
Dan….
Rona mata pun kian meredup. Menerawang bebas ke tempat dimana seharusnya aku tak berada.
Ke tempat dimana seharusnya luka tak kembali tergores.
Ke tempat dimana berulang kalipun ku ketuk, pintunya tak pernah terbuka.
Sedikit pun.
Haruskah aku melangkah atau bertahan?
Pergi atau tinggal untuk terus mengetuk?
Tuhan, peluk.
Anak gadis-Mu terlalu lemah untuk melangkah saat ini....

Februari 09, 2013

Labirin memori

Tik tok tik tok.
Waktu terus saja melangkah maju.
Tapi. Aku melangkahkan kakiku berlawanan arah dengannya.
Hey, bisakah kau menuntunku bersama waktu.
Aku tersesat dalam labirin memori, sayang.